06 March 2015

Website Taruhan - 4 Sniper Paling Mematikan di Dunia

WEBSITE TARUHAN



Website Taruhan, 4 Sniper Paling Mematikan di Dunia - Sniper atau penembak jitu adalah pasukan khusus yang ditugaskan untuk menghancurkan atau membunuh musuh secara diam diam. Namun di beberapa sumber mengatakan bahwa sniper dan penembak jitu itu adalah berbeda. Sniper adalah  penembak runduk, adalah seorang prajurit infanteri yang secara khusus terlatih dan dilatih untuk mempunyai kemampuan membunuh musuh secara tersembunyi sedangkan Penembak jitu atau sharp shooter adalah istilah yang dipakai pada bidang militer yaitu seorang penembak jitu yang terlatih dan dilatih untuk menembak secara tepat dan akurat dengan menggunakan senapan tipe tertentu. Terdengar hampir sama kan?

Dalam segala hal termasuk sniper di dunia ini tentu saja ada yang mengumoulkannya menjadi yang terbaik. Seperti halnya sniper yang dikatakan terbaik di dunia entah karena banyaknya membunuh musuh ataupun jarang melesetnya target. Berikut adalah 4 Sniper Paling Mematikan di Dunia versi aladinpoker.com




Tatang Koswara
Tatang Koswara (Indonesia) - Seorang sniper terbaik dunia meninggal hari selasa tanggal 2 maret 2015 setelah menceritakan kisahnya pada sebuah acara tv swasta. Namanya Tatang Koswara. Dia masuk dalam daftar penembak jitu atau sniper terbaik di dunia, seperti tercantum dalam buku Sniper Training, Techniques and Weapons. Dalam buku yang ditulis Peter Brookesmith itu, nama Tatang masuk dalam daftar 14 besar Sniper’s Roll of Honour di dunia. Kini, usianya 68 tahun. Setelah pensiun dari dinas, Tatang dan keluarga menyandarkan hidup dari warung nasi yang mereka kelola. Tatang yang masuk TNI karena mengantar adiknya mendaftar, dan Tatang pun lulus. Selama di dunia militer, Tatang mendapat sorotan dari atasannya. Pengalamannya hidup di kampung membuat pelajaran militer menjadi hal yang tak sulit baginya, baik dalam hal fisik, berenang, maupun menembak.

Pada suatu hari, Tatang ditugaskan masuk ke jantung pertahanan lawan. Tanpa disadari, Tatang berada di tengah kepungan lawan. Ada 30 orang bersenjata lengkap di sekelilingnya. Tatang terperangkap dan tak bisa bergerak sama sekali. Dalam pikirannya hanya ada satu bayangan, kematian. Namun, sebelum mati, ia harus membunuh komandannya terlebih dahulu.

"Posisi komandannya sudah saya kunci dari pukul 10.00 WIB. Tapi, saya juga ingin selamat, makanya saya menunggu saat yang tepat. Hingga pukul 17.00 WIB, komandan itu pergi ke bawah dan saya tembak kepalanya," tuturnya. Namun, ternyata, di bawah jumlah pasukan tak kalah banyak. Tatang dihujani peluru dan terkena dua pantulan peluru yang sebelumnya mengenai pohon. "Darah mengalir deras hingga sudah sangat lengket. Tapi, saya tidak bergerak karena itu akan memicu lawan menembakkan senjatanya," ucapnya.

Tatang baru bisa bergerak malam hari. Ia mencoba mengikatkan tali bambu di kakinya. Dengan bantuan gunting kuku, dia mencongkel dua peluru yang bersarang di betisnya. Namun, darah tak juga berhenti mengalir. Ia pun melepas syal merah putih tempat menyimpan foto keluarga. Sambil berdoa, dia mengikatkan syal tersebut di kakinya. "Saya memiliki prinsip, hidup mati bersama keluarga, minimal foto keluarga. Saya pun berdoa diberi keselamatan agar bisa melihat anak keempat saya yang masih dalam kandungan, lalu mengikatkan syal merah putih. Ternyata, darah berhenti mengalir. Merah putih menjadi penolong saya," ungkapnya.

Selama empat kali masuk ke medan perang, Tatang mengatakan, pelurunya telah membunuh 80 orang. Bahkan, dalam aksi pertamanya, dari 50 peluru, 49 peluru berhasil menghujam musuh. Satu peluru sengaja disisakannya. Ini untuk memenuhi prinsip seorang sniper yang pantang menyerah. Sebagai seorang sniper, dalam keadaan terdesak, dia akan membunuh dirinya sendiri dengan satu peluru tersebut.

Lewat kelihaiannya itulah, Tatang didaulat menjadi salah satu sniper terbaik dunia, seperti dituliskan dalam buku yang ditulis Brookesmith itu. Tatang mencetak rekor 41 di bawah Philip G Morgan (5 TH SFG (A) MACV-SOG) dengan rekor 53 dan Tom Ferran (USMC) dengan rekor 41. Tatang memperoleh rekor tersebut dalam perang di Timor Timur pada 1977-1978. Selamat jalan Pak Tatang Koswara jasa jasa mu tak akan dilupakan.




Chris Kyle
Chris Kyle (Amerika Serikat) - Chris Kyle, dinobatkan sebagai penembak jitu paling mematikan di militer Amerika Serikat (AS), atas reputasinya menghabisi 255 orang selama karirinya menjadi tentara. Ia mengalahkan catatan yang ditorehkan penembak jitu Amerika Serikat lainnya, yaitu Sersan Adelbert F Waldron, yang menembak mati109 orang dalam perang Vietnam, dan Carlos Hathcock, yang menembak mati 93 orang juga dalam perang Vietnam.

Ia memperoleh ketenarannya setelah berhasil menembak mati seorang milisi bersenjata Irak yang akan menembakan roket ke arah iring-iringan tentara Amerika di Kota Sadr, Irak, pada tahun 2008. Saat itu, melalui teropongnya, Chris mengukur jarak di antara dirinya dengan militan tersebut hampir sejauh 2.100 meter. Kendati demikian, ia tetap melepaskan tembakan dari senapan laras panjangnya yang bertipe Lapua Magnum 0,338.

Peluru yang melesat dari laras senjata Chris melesat menembus tembok rumah dan mengenai targetnya, dan menewaskan milisi itu di tempatnya berdiri. Selama karirnya sebagai penembak jitu, Chris selalu menggunkan senjata modifikasi 0.300 Winchester Magnum. Menurutnya senjata tersebut memiliki akurasi tembakan yang sangat baik.

Chris yang mengakhiri karirnya dari Angkatan Laut setelah mengabdi selama 10 tahun , menceritakan kisahnya yang luar biasa sebagai penembak jitu yang mematikan dalam buku, yang berjudul 'Sniper Amerika,' yang dilepas ke pasaran pada Selasa (3/1/2012). Untuk prestasinya, ia menerima penghargaan tiga Bintang Perak keberanian dan lima Bintang Perunggu keberanian dari militer Amerika Serikat.




Lyudmila Mykhailivna Pavlichenko
Lyudmila Mykhailivna Pavlichenko (Rusia) - Seorang gadis 24 tahun yang sedang berkuliah di Fakultas Sejarah Universitas Kiev, Ukraina, melangkahkan kakinya menuju perekrut relawan lokal dan menawarkan dirinya untuk direkrut sebagai infanteri. Namun tentara perekrut yang menghadapinya (kemungkinan seorang laki-laki) mengatakan kepada Pavlichenko bahwa dia lebih cocok menjadi perawat daripada tentara. Pavlichenko pun menolak.

Dari aksi-aksi snipernya, total Pavlichenko sudah membunuh 309 tentara NAZI (ini hanya jumlah yang dikonfirmasi). Yang lebih mengesankan lagi adalah dari jumlah tersebut, 36 diantaranya adalah juga sniper yang juga ingin membunuhnya, yang salah satu diantaranya telah membunuh lebih dari 500 orang. Hal ini berdasarkan buku catatan yang berisi tanggal dan lokasi penembakan yang dibawa oleh sniper tersebut. Namun tidak bisa dipastikan siapa sniper hebat Jerman itu, hanya sedikit sumber terpercaya yang menyebutkannya. Ada juga yang menyebutkan bahwa sniper itu adalah Heinz Thorvald, seorang Kolonel SS, pemimpin sekolah sniper Jerman di Zossen.

Dengan total 309 korban jiwa, Pavlichenko masih memegang rekor untuk jumlah tertinggi korban yang dibunuh oleh sniper wanita. Namun masih jauh dari rekor korban sniper terbaik dalam sejarah "Simo Häyhä" yang sebanyak 705 korban jiwa.




Simo Häyhä
Simo Häyhä (Finlandia) - Simo Hayha lahir pada 17 Desember 1905 dan meninggal pada 1 April 2002 pada umur 96 tahun. Dijuluki sebagai "White Death" (Kematian Putih) oleh tentara Soviet, Simo adalah seorang tentara Finlandia. Ia adalah seorang petani dan pemburu yang telah melewati masa wajib militer 1 tahunnya. Ketika Uni Soviet menyerang Finlandia tahun 1939 dalam Perang Musim Dingin, ia memutuskan untuk membantu Finlandia. Dengan hanya menggunakan senapan standar, ia memiliki rekor membunuh terbesar dalam peperangan.

Dalam suhu minus 20 dan 40 derajat Celsius, dengan berpakaian berwarna putih, ia telah membunuh 505 tentara Soviet, dan 542 jika kematian yang tidak pasti diikutsertakan. Selain membunuh dengan cara sniper, Simo juga membunuh dua ratusan orang dengan senapan Suomi KP/-31, meningkatkan jumlah orang yang dibunuhnya menjadi 705. Seluruh pembunuhan dilakukan Häyhä dalam waktu kurang dari 100 (seratus) hari.

Ketika pasukan khusus yang dikirim Russia untuk menghabisi Hayha semua tewas, Russia mengumpulkan sebuah tim counter-sniper untuk mengimbangi kemapanan Hayha dalam menembak jauh (sniper VS sniper). Namun tidak ada satu pun dari mereka yang selamat dari bidikannya. Dalam masa 100 hari, Hayha membunuh 542 prajurit dengan senapannya. selebihnya dia habisi dengan SMG. Jumlah keseluruhannya mencapai 705 orang.


Posted by: AladinPoker

No comments:

Post a Comment